Blog Sedek@h™

miracle of giving

Berkah Sedekah Akhirnya Punya Rumah

Alloh SWT tidak akan menyia-nyiakan sedekah yang dilakukan oleh hambanya. Seperti yang telah dialami oleh Robby orang Semarang. Hajatnya yang ingin mempunyai rumah sendiri terkabul tidak lama setelah dia memberikan sedekah ratusan ribu. padahal rumah yang dimilikinya sekarang nilainya puluhan juta rupiah.
"Alhamdulillah, berkat sedekah Rp.700 ribu, kami akhirnya dapat memiliki rumah senilai Rp. 70 an juta."  Demikian Robby berkisah dengan penuh ucapan syukur.
Apa yang dialaminya tersebut benar-benar sebuah keajaiban. Dia dan istrinya mendapatkan pertolongan Alloh SWT sehingga mampu memiliki rumah yang harganya diluar kemampuan ekonominya saat itu. 
Awalnya, ketika robby dan istrinya bersilaturahmi ke rumah teman barunya di daerah perumahan di Semarang. Setelah melihat kondisi dan fasilitas yang ada di perumahan itu dia tertarik untuk mempunyai rumah sendiri. Temannya berkata bahwa rumahnya dapat dimilki dengan uang muka Rp. 15 juta dan cicilan Rp. 700 ribu selama 10 tahun, sedangkan jika ingin mengangsur selama 15 tahun maka cicilannya adalah Rp.400 ribu. "Saya dan istri tertarik, tapi saya hanya punya uang tabungan Rp.1,5 juta," terang Robby.
Tidak berhenti di situ, Robby dan istrinya bercerita kepada orang tuannya dan saudara-saudaranya kalau ada rumah dengan model dan kondisi yang bagus uang mukanya murah dan cicilannya ringan. Akan tetapi kemudian orang tuannya dan saudaranya kurang antusias dan hanya berkata, "Yaaa nabung dulu saja, nanti kalau ada rejeki dibantu."
Robby kemudian mempunyai ide kalau dirinya ingin pinjam uang ke Bank dengan SK orang tuanya yang pensiunan sebagai jaminan. Namun ide itu tidak direstui orang tuanya, begitu juga saat dia akan pinjam uang Rp.15 juta juga tidak diberinya.
Dengan  melihat jalan impianya itu agak berat, Robby mulai melakukan perburuan rumah dan kali ini dengan  uang muka dan cicilan yang lebih ringan. Hampir semua perumahan di daerah Semarang dia datangi sampai dengan pameran-pameran perumahan juga dia datangi untuk mencari rumah ideal dengan uang muka dan cicilan yang terjangkau, tapi semuanya belum membuahkan hasil.
Pada hari yang lain, pada saat Robby sedang bersilaturahmi ke rumah temannya yang lain, saat itu secara iseng dia menanyakan uang muka dan cicilan rumah sahabatnya itu. Akan tetapi uang muka rumah tersebut cukup tinggi yaitu Rp. 20 juta dan Rp. 30 juta untuk tipe rumah yang lebih besar.
Pada akhirnya Robby menyadari bahwa dia belum diberi rejeki untuk mempunyai rumah. Pada suatu pagi dia dan istrinya sepakat untuk menyedekahkan Rp. 700 ribu dari uang tabunganya. Setengah dari nilai uang yang dia punya dia berikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Hal tersebut dilakukan setelah dia menyadari kalau dirinya itu tidak mampu apa-apa apabila Alloh SWT tidak menolongnya. Mau nabung untuk uang muka rumah tetap butuh waktu lama, padahal kondisi perut istrinya sudah semakin membesar, bagaimana dengan kondisi bayinya apabila lahir tapi belum mempunyai rumah sendiri. Adalah kebanggan tersendiri apabila punya bayi lahir di rumah sendiri bukan di rumah kontrakan. Hasrat untuk memberikan sedekah sebesar Rp.700 ribu tidak terbendung lagi setelah istri yang dia cintai justru mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. "Alhamdulillah keinginan sedekah saya yang awalnya segan aku utarakan ke istri tidak tahunya malahan didukungnya...".
Pada hari ke enam setelah Robby menyedekahkan uangnya dia menerima telepon dari orang tuanya yang menyatakan bahwa ada salah satu saudaranya yang bersedia meminjamkan uang. Robby bergairah dan langsung dia terima uang pinjaman sebesar Rp.20 juta itu. Uang sebesar itu rencananya akan dipakai untuk membayar uang muka rumah ukuran 5 x 18 m2. Rupanya orang tuanya kurang cocok dengan tipe tersebut, akhirnya Robby ditambah uang oleh orang tuannya sebesar Rp. 10 juta. Uang total Rp. 30 juta akhirnya dipakai untuk mengambil rumah dengan luas 8 x 12 m2. "Jadi kami tinggal membayar uang cicilan dengan nilai total sama dengan uang muka Rp. 70 juta. Alhamdulillah ya Alloh, semua ini berkat kemurahan Engkau yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih," Tutur Robby tidak henti-hentinya bersyukur.

Read more

Bisnis Pak Imron Yang Selalu Berkah

Pak Imron sangatlah sibuk akan tetapi semua usaha bisnisnya tidak ada yang krisis walaupun terkena badai krisis dan selalu berkah. Usahanya yang begitu banyak tidak pernah terdengar mengalami masalah dari mulai didemo karyawannya maupun mem-PHK karyawannya. Pengusaha asal Jawa Timur ini selalu sibuk tapi tidak susah untuk ketemu dengan dianya. Kesibukannya dimulai dari usaha penerbitan, percetakan, institusi pendidikan, pelayanan haji dan umrah, yayasan sosial, hotel dan lain sebagainya. Dan anehnya, semua usahanya yang dia geluti selalu berjalan dengan lancar dan tetap memberikan hasil  keuntungan usaha.
"Bapak itu orangnya profesional kok Mas." Begitu cerita stafnya yang sempat bercerita  "Meskipun dengan keterbatasan waktu yang dimilikinya Namun semua karyawannya merasa apa yang dilakukannya adalah milik karyawan itu sendiri, yaaa entah kenapa ? yang jelas semua karyawan tidak pernah mengeluh dengan gaji yang dia terima setiap bulan." Begitu stafnya melanjutkan. "Jadi setiap karyawan bekerjanya merasa seperti bekerja di perusahaan sendiri, kami kadang pulang ya sore menjelang maghrib, lagian kalau perusahaan untungnya banyak juga kembali ke karyawan juga kok Mas.....". Begitu trenyuh saya mendengarnya...
Rupanya ada suatu kebijakan yang selalu dilakukan oleh Pak Imron dalam menjalanlan usahanya. "Saya pernah dengar dari Bapak bahwa semua jenis usaha yang dilakukan oleh Bapak selalu diinfakan sebesar 30 % ke jalan Alloh SWT. Jadi Bapak cuma ambil 30 % dari keuntungan yang didapat dan sisanya yang 30 % untuk modal berikutnya." Luar biasa.pak Imron ini. Begitu batinku heran mendengarnya. 
Apa yang telah disampaikan oleh karyawannya tadi adalah sangat masuk akal, bagaimana kayawanya tidak akan loyal kalau dari sisi spiritual saja Pak Imron sudah melakukan sedekah sebanyak itu. bahkan ada kebijakan aneh yang pernah dilakukan oleh Pak Imron, apa itu? Sewaktu krisis moneter melanda Indonesia sekitar tahun 1988, bisnis percetakan miliknya hampir bangkrut seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya saat itu. Sebuah kebijakan yang ditempuh Pak Imron sangatlah  berbeda dengan perusahaan-perisahaan lain dimana kebijakan mengurangi karyawan dengan memPHK sangatlah umum saat itu tapi di perusahaan percetakan milik Bapak Imron para karyawannya yang jumlahnya ratusan tidaklah dirumahkan. Bahkan gajinya mereka dinaikkan sehingga karyawan-karyawan tersebut sangat senang dan tidak resah dengan adanya harga-harga kebutuhan bahan pokok yang menggila pada saat itu. "Kalau kalian-kalian saya rumahkan atau PHK berarti kalian tidak akan mendoakan saya dan perusahaan ini." 
Rupanya hal itu yang menjadikan para karyawannya betah bekerja di perusahaan Pak Imron, loyalitas tidak terbatas dari para karyawan yang merasa tertolong oleh Pak Imron dari dahulu, hutang budi para karyawan kepada Bapak Imron yang akan selalu ditunjukan dengan bekerja sebaik-baiknya
Jadi sudah jelas dan masuk akal apabila Bapak Imron yang selalu sibuk dengan banyaknya kegiatan menjalankan bisnisnya tapi tidak ada gejolak sedikitpun dari mulai usaha yang goncang, rugi ataupun kesulitan keuangan. Apa yang disentuh oleh Pak Imron akan selalu berkah.
Read more

Onta Abdullah

"Kamu sekali-kali tidak mendapatkan kebaikan yang sempurna, sebelum kamu memberikan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu berikan, maka sesungguhnya Alloh SWT mengetahuinya" (QS.Ali Imran : 92)

Abdullah adalah seorang ayah yang mempunyai 3 orang anak. Mereka hidup bahagia dan mempunyai beberapa onta yang selama ini bisa dijadikan sumber penghidupan sehari-hari. Suatu hari diketahui bahwa ada tetangganya yang lebih membutuhkan uluran tangannya karena keluarga tersebut tidak mempunyai onta seperti keluarga mereka yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Abdullah tersentuh hatinya apabila melihat ketulusan dan kesholehan tetangganya itu. Akhirnya Abdullah memberikan onta terbaiknya tersebut kepada tetengganya itu karena dia teringat pesan dalam Al Qur'an bahwa memberi hendaklah yang paling bagus dan paling disayangi. Onta yang diberikan yang benar-benar paling bagus dan harganya yang paling mahal.  Dan mulai saat itu kehidupannya tetanganya dapat terbantu karena onta yang diberikan Abdullah benar-benar sangat melimpah susunya sehingga anak-anaknyapun dapat terpenuhi kebutuhannya.
Pada suatu waktu ketika musim panas tiba dan semua orang berlomba-lomba mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan ternaknya. Mereka mencari air di goa-goa atau di tempat-tempat yang curam dan sulit dijangkau dengan cara biasa, karena sumber air biasanya memang keluar dari tempat-tempat tertentu saja.
Dari kondisi yang seperti itu membuat keluarga Abdullah dan 3 anaknya berangkat mencari sumber air. Mereka berjalan menyusuri padang pasir dan mengamati tempat-tempat  yang dimungkinkan di sana ada tersimpan air.  Akhirnya mereka menemukan tempat yang diyakini bahwa ada ada sumber air akan tetapi jauh di bawah goa. Maka turunlah Abdullah ke dalam goa yang gelap gulita dan jalannya berliku-liku.  Sementara itu sang anak memanggil-manggil ayahnya. Mulanya masih terdengar jawaban ayahnya saat dipanggil tapi lama kelamaan tidak ada jawaban lagi. Anak-anaknya masih tetap menunggu sampai lewat tengah malam dan terus memanggil manggilnya, tetapi tidak terdengar lagi jawaban. 
Menjelang pagi hari, ketiga anaknya mulai menduga-duga jangan-jangan ayahnya telah meninggal dunia dan dimangsa binatang goa. Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah dengan keyakinan bahwa sang ayah telah meninggal dunia.
Tiga hari kemudian ketiga anaknya mulai menghitung-hitung harta warian peninggalan ayahnya. Akhirnya mereka jadi teringat kepada onta yang pernah diberikan ayahnya kepada teangganya itu. Dia merasa bahwa onta terbaik yang telah diberikan ayahnya kepada tetanganya dapat dijadikan andalan untuk sumber susunya.
Akhirnya mereka sepakat akan meminta kembali onta tersebut dan menggantinya dengan anak onta yang harganya paling murah. Benar, mereka mendatangi tetangganya itu dan mengambil onta yang banyak susunya pemberian dari ayahnya dan ditukar dengan anak onta yang harganya murah dan susunya sedikit. 
Kepada anak-anaknya itu, tetangga itu bertanya : "Mengapa pemberian ayahmu kamu minta kembali ?"
 "Itu adalah hak kami, kami sebenarnya tidak setuju."Anak-anak itu menjawab :
"Kami sangat menghormati orang tua saya" begitu anak-anaknya menambahkan.
 "Lalu sekarang ayah kamu dimana? " Tanya tetangganya itu.
Anak-anak itu mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia pada saat bersama-sama mengambil air di goa. Mendengar cerita anak-anaknya itu akhirnya tetangga yang pernah diberi onta itu meminta ditunjukan tempat dimana ayahnya hilang.  Maka ditunjukannyalah tempat dimana arah tempat dan tanda-tanda ayah mereka hilang. Kemudian tetangga itu berangkat sendirian tanpa ditemani anak-anak itu.
Setelah ditemukan tempatnya sesuai dengan tanda dan arah yang ditunjukan anak-anak itu, tetangga Abdullah itu turun dan masuk melewati lorong-lorong goa yang jauh berliku-liku. Dengan membawa obor api, tetangga itu menemukan Abdullah dalam keadaan buta matanya karena terkena benturan batu. Kemudian Adullah dipapah keluar dari goa dan selamat sampai di atas. Tetangga itu bertanya "Bagaimana Anda bisa bertahan hidup selama 2 minggu dalam goa yang gelap gulita dan tidak ada makanan sama sekali ?".
Abdullah menjawab "Setiap kali saya lapar, yaitu tiga kali dalam sehari, tangan saya meraba-raba ke sekeliling tempat di mana saya duduk, saya mendapatkan genangan air lalu saya minum dan ...ternyata adalah air susu segar seperti baru saja diperah, itu mungkin yang membuat saya bugar dan sehat. Saya tidak tahu dari mana datangnya susu itu karena tempat di mana saya duduk adalah kering dan bebatuan. Tetapi aneh, sejak tiga hari yang lalu saya tidak lagi mendapatkan susu itu, saya hanya mendapatkan air. Karena hanya minum air, maka badan saya menjadi lemas dan tidak bertenaga lagi."
Tetangga itupun menangkap hikmah penting dari apa yang telah diceritakan oleh Abdullah. Maka diapun akhirnya menceritakan apa yang telah dirasakan dan terjadi dengan kelakuan anak-anak Abdullah. "Bahwa onta yang diberikan Bapak waktu itu benar-benar menghasilkan susu yang luar biasa banyaknya dan bermanfaat bagi banyak keluarga. Karena itulah Alloh SWT mengirim susu untuk Bapak. Tetapi sejak tiga hari yang lalu onta yang diberikan Bapak itu telah diambil kembali oleh anak-anak Bapak dan diganti dengan anak onta, mungkin itulah, Bapak tidak lagi menikmati susu dalam goa."
Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan menuju desa terdekat untuk menyembuhkan mata Abdullah yang bengkak menutup kelopak matanya dan baru sore harinya pulang ke rumah. Sampai di rumah, Abdullah bertanya kepada anak-anaknya " Mengapa kamu semua tidak mencari ayah, kamu menganggap ayahmu sudah mati, tapi justru tetangga kita yang mencari dan menolong Ayah .?" Mereka bertigapun menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Abdullah memaafkan kesalahan ketiga anaknya itu, tetapi Abdulllah telah berketetapan hati bahwa hartanya yang setengah akan diberikan kepada tetangganya yang hatinya lebih baik dari pada anaknya sendiri dan sisa yang setengah lagi diberikan kepada ke tiga anak-anaknya.

Read more

Saya Harus Membuang Air Susu Saya Bu......

Kisah ini didapatkan dari Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita yang sudah dinyatakan oleh Dokter terkena kanker darah, kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluannya, dia mendatangkan pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama.
Satu minggu setelah bekerja, Majikan merasa pekerjaannya dianggap bagus. Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu si Majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Pembantunya ini sering sekali ke kamar mandi dan berdiam cukup lama. Dengan tutur kata yang lemah lembut si Majikan bertanya." Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi..?" Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu.  Si Majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Pembantunya itupun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah dia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. "Saya harus membuang air susu saya Bu, kalau tidak dibuang dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusu oleh anak saya. " Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi.
"Subhanalloh, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda," Kata majikan. Ternyata Majikannya tidak seburuk seperti yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan memberikan gajinya secara penuh selama 2 tahun sesuai dengan akad kontraknya dan memberikannya tiket pulang.
"Kamu pulanglah dulu, uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu, kamu susui anakmu secra penuh selama 2 tahun dan jika kamu igin kembali bekerja kamu mengubungi telepon ini sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu.". "Subhanalloh, apa Ibu tidak apa-apa saya tinggal..?" Kenangnya dalam hati. Si Majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala bahwa apa yang kamu tinggal lebih berharga dari pada mengurus saya.
Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan.
Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian dia baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi..? Dokter yang menangani awal tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya. Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedasyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa..???.
Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenanrnya yang telah dilakukan oleh pasien. Wanita itupun menjawab,, " Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, mungkin sedekah yang telah saya lakukan ke pembantu saya telah membantuku sembuh, nyatanya setelah saya menolong hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup, saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya tapi susu itu tidak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi, Saya menangis apabila mengingat akan keadaannya, akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar bisa menyalurkan air sususnya dan dia sehat dan anaknya juga bisa sehat. mungkin dengan itu akhirnya sakit saya sembuh Dokter .,," Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa diagnosa dan sakit apapun bisa sembuh karena Alloh SWT memang menghendakinya, 'Obatilah orang yang sakit dengan sedekah..............."
Read more

Dia adalah Suamiku 15 tahun yang Lalu

Cerita ini cukup menyentuh hati, dimulai dari kepelitan dan kebakhilan seseorang yang berujung kepada kefakiran orang itu. 
Cerita sepasang suami istri yang sedang menikmati hidup baru malam pengantin di rumah mereka sendiri. 
Ketika mereka berdua sedang asyik makan malam, tiba-tiba pintu diketuk seseorang yang tampaknya benera-benar meminta pertolongan. Orang itu dalam keadaan lapar, ingin minta makan atau paling tidak minta minum.
Si Suami berkata dari dalam rumah," Siapa sih malam-malam mengganggu orang yang mau istirahat?" Dia nampak kesal dan marah. Istrinya bangkit dan membuka pintu. Dari balik pintu istrinya mendengar seseorang sedang minta makan. Kemudian dia mendekati suaminya dan berkata," Bang, di luar ada seseorang sedang meminta makan." Suaminya bangkit dan keluar sambil marah-marah. Dipukulnya peminta-minta itu sambil diumpat habis-habisan dan berkata."Menganggu orang yang lagi menikmati malam pengantin, nggak tahu malu, masih muda minta-minta, malam-malam begini lagi. Pergi kamu, kalau tidak segera pergi akan saya hajar kamu !!."
Lapar yang menghinggapi orang itu mengalahkan rasa sakit hatinya.  Dengan ikhlas dia pergi meninggalkan rumah kedua mempelai baru itu. Sementara itu, sang Suami entah memang sedang kerasukan setan atau kemasukan Jin tidaklah jelas, dia semakin menjadi-jadi marahnya dan lupa diri. Malam itu juga dia pergi meninggalkan istrinya dan pergi entah kemana tidak jelas yang dituju.
Lima belas tahun sudah lamanya si Istri tidak pernah tahu keberadaan si Suami yang pergi tanpa jejak. Istri dengan sabar menanti kedatangannya, tetapi si Suami tidak pernah ada beritanya. 
Suatu saat si Sitri bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatinya. Begitu juga dengan hati pemuda itu, dia tertarik dengan paras dan kecantikan serta tindak tanduknya yang cenderung sopan dan lemah lembut. Akhirnya hubungan mereka direstui oleh orang tua si Janda tersebut dan berkelanjutan dengan pernikahan.
Di malam pertama mereka, pada saat mereka berdua makan malam diselingi canda tawa, sesekali bunyi rengekan manja dari pengantin perempuan. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya suara dari luar, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka. Sang Suami berkata kepada istrinya. "Coba kamu lihat siapa dan apa maksudnya Bu.?". Sang istri berjalan mendekati pintu. Dari balik pintu dia memandangi orang itu dan bertanya kemudian kembali ke arah suaminya dan berkata. "Dia adalah orang yang meminta makan." Maka dengan segera Sang Suami mengangkat makanan yang baru saja mereka cicipi itu dan diserahkan kepada istrinya. ."Berikan ini semua kepada Dia, biarkan dia makan sampai kenyang dan kita makan yang ada ini saja." Istrinyapun mengangkat makanan itu dan menyerahkan kepada orang yang berada di liuar rumah.
Sesudah itu sang Istri kembali masuk ke dalam rumah. tetapi kali ini terlihat wajahnya sayu, Dia malahan menangis meneteskan air mata. Sang Suami kebingungan dan berkata."Kepana kamu menangis? apakah makanan ini tidak cukup buat kita berdua?: biarkan saja orang itu bahagia Bu, atau jangan-jangan orang itu malah menghina kamu?"  Dengan linangan air mata, sang Istri selalu menjawab "tidak". dalam semua pertanyaan suaminya. "Lalu kenapa kamu menangis..?" tanya Suaminya lagi. Akhirnya sang Istri menjawab.."Laki-laki yang sekarang sedang makan di sepan rumah kita ini, dia adalah suamiku 15 tahun yang lalu. Saat itu kami sedang menikmati malam pengantin dan makan bersama. tiba-tiba datang seseorang yang mengetuk pintu dan meminta makan. Suamiku merasa terganggu, Dia tidak memberinya makanan, Dia marah-marah dan memukulnya. Kemarahannya semakin menjadi-jadi hingga dia seperti kesetanan. Sesudah itu dia pergi dan tidak tahu beritanya dan sekarang ada di depan kita Bang...."
Mendengar cerita istrinya sang Suami mendadak berubah wajahnya, matanya berkaca-kaca mengeluarkan air mata dan sesekali terdengar isak tangis kecil. Istrinya yang akhrinya jadi bingung dan bertanya. " Apa yang membuat Abang menangis,,?" Suaminya kemudian menjawab. " Tahukah istriku, siapa orang yang dulu dipukul dan diusir Suamimu 15 tahun yang lalu..?" Istrinya balik bertanya.."Siapa dia Bang..""Dia adalah aku, maka janganlah kamu pelit dan bakhil terhadap orang miskin, sangat mungkin suatu saat kamu akan bisa mengalami nasib yang sama.." Suaminya akhirnya menjawab.. Istrinya kaget bukan kepalang. Dua suami yang berdiri dihadapannya, mantan Suami yang telah menjadi fakir dan matan peminta-minta yang telah menjadi suaminya sekarang. Subhanalloh..........
Read more

Emas si Bakhil

Ada kisah menarik dari seseorang yang tinggal di kota Ihsa, Saudi Arabia. Katanya,"Saya mempunyai seorang tetangga yang sangat bakhil, padahal umurnya telah tua dan rambutnya telah beruban. Ia hidup seorang diri. Tak bersama suami, anak, kerabat dekat ataupun teman. Kerjanya hanya mencari dan menumpuk harta."
Suatu hari ia tidak nampak seperti basanya, ia belum kelihatan pergi ke tokonya. Profesi orang ini adalah memproduksi sandal.
Selesai aku sholat Isya, aku menuju pintunya yang nyaris runtuh. Kalaulah angin berhembus kencang, tentu bakalan roboh. 
Kata temanku, "Maka kudorong pintu, dan aku masukan kaki kananku sembari aku ucapkan, hai kawan?: Laki-laki itu kaget , terperanjat. Segera ia himpun tangannya, dengan setengah marah ia berujar,"Apa maumu? ! Kujawab,"Maaf, aku datang hanya untuk membesukmu, sebab kulihat sudah tiga hari ini engkau tidak pergi ke tokomu." Namun si bakhil itu malah mendorongku sekuat-kuatnya. Akupun keluar, namun aku masih juga khawatir siapa tahu dia terkena sesuatu. 
Maka kujenguk ia kedua kalinya. Tak tahunya, ia tengah mengumpulkan dinar emas di depanya, yang kilaunya menyemburat karena cahaya lampu. Disampingnya ada sepiring minyak. Rupanya ia sedang menimang-nimang emasnya seraya berujar,"Wahai kekasihku, sungguh telah aku habiskan umurku karenamu, akankah aku mati dan meninggalkanmu untuk selainku?, tidak boleh terjadi yang demikian!! Aku sadar bahwa kematianku telah dekat dan penyakitku telah kritis. Kalau begitu, aku akan memendammu bersamaku." Kontan ia ambil dinar emasnya dan ia letakkan di minyak dan ia telan. Lantas ia merintih nyaris akan meninggal. Kemudian ia menarik napas dan ia angkat dinar emas lainnya, ia timang dinar emas lainnya yang seolah-olah teman akrab yang datang dari kejauhan, kemudian ia benamkan di minyak dan ia telan lagi dinar emas itu dengan mulutnya.
Kukatakan dalam hati."Demi Allhoh, harta si bakhil ini tak bakalan disantap selain oleh para penjagal ". "Baiklah, hari ini aku akan menjadi penjagal." Maka kututup pintu dan aku ikat pintu dengan kawat. Selama tiga hari hingga aku yakin bahwa si bakhil telah tewas."
Kemudian aku menemuinya dan ternyata jasad si bakhil telah membatu di kasurnya setelah menelan emasnya. Aku kabari orang-orang. Merekapun membopongnya, memandikan jasadnya dan mereka heran karena beratnya. Kata mereka,"Aneh, orang ini tinggal kulit dan tulang, namun mengapa sedemikian beratnya ! ". Rupanya mereka tidak tahu rahasia yang kuketahui. Kami kemudian menguburkannya.
Ketiak tengah malam, aku ambil kapak dan cangkul. Aku gali kuburan dan aku singkirkan tanah yang menimbunnya. Aku menoleh kana kiri hingga tak seorangpun melihatku. Aku singkirkan  bebatuan dari kuburan dan sampai terlihat putih warna kain kafan. Langsung saja aku ambil pisau dan aku sobek perutnya dengan bantuan cahaya rembulan. Aku ulurkan tanganku untuk mengambilnya. Nahas, tiba-tiba kurasakan panas bagaikan api menyala. Akupun berteriak sedang kulit tanganku mengelupas.
Kembali aku timbun kuburnya dengan bebatuan dan tanah. Aku pulang sambil berteriak yang belum pernah kurasakan kesakitan seperti itu. Aku tenggelamkan tanganku ke dalam air dingin. Beberapa tahun aku merasakan sengatan panas ini.
Beginilah akhirnya, kebakhilan yang telah memenjara dan mempebudak manusia. Harta yang seharusnya menusia pergunakan untuk membebaskan dirinya dari kepayahan duniawi dan ukhrawi justru berbalik menjadi bumerang yang mencelakakan dirinya. Ia begitu kepayahan mencari, memburu dan memelihara hartanya, Ia malahan berubah mejadi budak hartanya. Saya berlindung kepada Alloh dari kebakhilan sebagaimana difirmankan,"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yaitu orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya." (Al-Humazah [104] : 1-2)
Read more

Jangan Sepelekan Pengemis

Pagi itu sebuah SMS masuk ke handphone Bu Salamah, dari suami beliau yang bekerja di Malaysia. Isinya pemberitahuan bahwa uang kebutuhan keluarga bulan Nopember telah ditransfer. Kontan saja SMS itu membuat Bu Salamah sumringah. Maklum, sejak beberapa hari terakhir, beliau memang sangat menungu-nunggu kabar tersebut. Terlebih anak beliau tertua yang masih kuliah. Ditambah lagi kebutuhan dua anaknya yang lain. Seperti pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan semangat Bu Salamah bergegas menuju Bank BNI cabang Gresik.
Jarak rumah Bu Salamah sendiri dengan Bank BNI tidak bisa dikatakan dekat, kira-kira 1 jam perjalanan. Untuk itu, seperti bulan-bulan sebelumnya, beliau memanfaatkan satu-satunya Bus yang memiliki trayek ke pusat kota semen tersebut.
"Assalamu'alaikum...Bapak dan Ibu yang saya hormati...." Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian kumal di tengah-tengah penumpang bus yang sedang melaju. Dari pengakuannya, ia adalah anak yatim yang memerlukan sedikit uang untuk sekedar membeli nasi pengisi perut. Setelah menyampaikan "prolog" singkat, anak tersebut segera menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.
Ketika tiba di bangku Bu Salamah duduk, mata anak itu terbelalak senang dan bahagia. Didapatinya lembar uang lima ribuan yang disodorkan oleh Bu Salamah. "Alhamdulillah, suwun Bu...suwun Bu....," ucapnya pelan dan hatinya begitu gembira. Ia pun berlalu menuju deret terakhir bangku bus tersebut.
" Oalah Bu..Bu,,,anak seperti itu kok dipercaya? diberi uang lagi..., numan (ketagihan) lho...??!!" cetus seorang wanita muda yang duduk di sebelah Bu Salamah.
Bu Salamah terkaget dan menoleh ke sumber suara. "Tak apa Mbak,,kasihan  khan??? cuma lima ribu. Yah,,dari pada nanti dia mencuri atau......" Bu Salamah tak melanjutkan kata-katanya, dan segera mengucap "Astaghfirullah.."
" Saya malas Bu, ngasih uang kepada anak-anak seperti itu. Mereka banyak bohongnya. Oh ya, Ibu mau kemana?."
"Ke Bank juga.."
"BNI?"
"Ya.."
"Berarti kita satu tujuan, Mbak."
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Bu Salamah dan Indah, wanita muda itu keluar dari Bank BNI. Mereka segera mencari angkot yang akan membawa mereka ke halte dimana bus biasa ngetem menunggu penumpang. Tanpa mereka sangka, seorang lelaki tegap bergelang akar bahar di tangan kanannya, dengan aroma menyengat minyak wangi Arab menepuk pundak mereka.  Dan, dengan ramah lelaki tersebut menawarkan tumpangan gratis sampai ke rumah.
Pada mulanya Bu Salamah menolak tawaran itu karena beliau mencium gelagat yang tidak beres. Tetapi karena Indah mendesaknya maka terpaksa beliaupun turut serta. Ya, Indah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh kata-kata manis lelaki tersebut.
Masuklah mereka berdua ke dalam mobil lelaki tersebut. Apa yang terjadi?  ternyata di dalam mobil sudah ada tiga lelaki lain. Mobil segera melaju. Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya mereka merayu Indah dan Bu Salamah.
"Sepertinya cincin dan kalung Mbak ini mahal ya? boleh saya lihat?.kata salah seorang dari mereka.
Dan, Indah pun meyerahkannya. Termasuk akhirnya Indah memberikan tas yang berisi uang yang baru saja diambilnya dari Bank BNI.
Para lelaki itu telah mampu memperdaya Indah, bagaiman dengan Bu Salamah? Ibu tiga anak ini seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan pengaruh mantra mereka sehingga merekapun akhirnya marah. 
Bu Salamah tidak sudi menyerahkan satu perhiasanpun apalagi tas berisi uang yang baru saja diambilnya itu. Akhirnya mereka menghentikan mobil tersebut dan memaksa kedua perempuan itu turun, kemudian mobil itupun tancap gas.
Sesaat setelah itu, sadarlah Indah kalau ternyata ia terkena gendam. Indah menangis sejadi-jadinya dan menyesali kebodohannya.  Bu Salamah kemudian menghiburnya, kemudian beliau langsung teringat akan kejadian tadi pagi. "Subhanalloh, jangan-jangan sedekah lima ribu kepada anak yatim itu yang mengundang perlindungan Alloh SWT atas diriku..?" ucapnya lirih.
Read more